Jumat, 04 Juni 2010

Lendola Baktikan Diri Untuk Masyarakat

PETUALANGANNYA di dunia LSM (lembaga swadaya masyarakat) membuat John L. Maro semakin mematangkan emosi, pikiran dan daya intelektualnya. Berbagai pengalaman dan kapabilitasnya membuat John Maro lalu dilirik dan ditawari menjadi Dosen pada Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Tetapi lagi-lagi John menolak secara halus karena ia sudah berkomitmen untuk membaktikan diri pada masyarakat yang tersebar di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Pulau Jawa. Pengabdiannya ini tetap membuat John belum puas. Teringat panggilan pertiwi, John lalu pamit di Plan Internasional tempatnya bekerja. Ia memboyong isteri dan anak-anaknya ke Kalabahi, Kabupaten Alor.
Bermodalkan segudang pengalaman, John mulai menjalani hidup yang baru di tanah kelahirannya. John lalu mendirikan suatu LSM yang kemudian diberi nama Yayasan Lendola. Pendirian lembaga ini menurut John, sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama suatu desa dimana ia berdomisili sekarang yakni Desa Lendola. Nama Yayasan Lendola sebenarnya lahir dari suatu permenunangan panjang tentang perlunya memberi nama Lendola. Bagi John yang didukung penuh isterinya, nama Lendola mengandung makna penuh arti. Maknanya sangat mendalam jika dicerna dan dihayati. Ya...Lendola yang dibaptisnya itu mengandung arti yang sarat makna.
Lendola, merupakan dua sisi saling terkait dengan membentuk satu tujuan yaitu “Kesatuan dalam Pelayanan”. Sisi pertama, sejarah perkawinan antara penduduk di gunung yaitu Tonono dengan penduduk di pantai yaitu Doi Siang (Dulolong) melahirkan Tang Ton. Tang Ton lalu melahirkan Bana Tang. Dari perkawinan ini terjadi pula penyesuaian bahasa menurut pengertian bahasa Tonono “Liling dol” dan pengertian bahasa Doi Siang “Liling dolu”. Dari Liling dol dan Liling dolu melahirkan “LENDOLA”.
Saat Pemerintah Belanda, Kerajaan Lendola diserahkan kepada Bala (Dulolong) menjadi Raja dan penyerahan tanah dataran yang dalam bahasa Lendola disebut “Alangbah”kepada Bala yang disebut “Kalabahi”. Alangbah dan Kalabahi mempunyai arti yang sama yaitu Pohon Kusambi. Ketika menyerahkan tanah, Raja Bana Tang menggali tanah dan mengambil bagian dalam kemudian menggumpalnya menjadi satu gumpalan dan menyerahkan kepada Bala. Saat menyerahkan itu, ia berkata : “ini adalah anak perempuan yang cantik saya serahkan untuk tinggal di tempat dan melayani semua orang”. Arti ungkapan itu adalah ‘Terimalah Jabatan Raja, tinggal di tempat ini untuk melayani orang. Jadi maksud hakiki dari pernyataan ini adalah tentang Pelayanan.
Sisi kedua, kata John, sejarah dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan merupakan wujud akhir dari suatu kegiatan sebuah kampung. Di tengah-tengah kampung terdapat sebuah mesbah. Bentuknya merupakan bulatan yang tersusun dari batu dan tanah. Suatu kegiatan sebelumnya didahului dengan musyawarah dan mufakat terangkat dari kegiatan masyarakat bawah yang dipimpin oleh ketua adat. Setelah berhasil melaksanakan kegiatan itu dilanjutkan dan diakhiri dengan lego-lego. Lego-lego diarahkan mengikuti irama bunyi tambur dan gong, mengikuti pula irama pantun syair dengan sambutan lagu yang merdu menghapus keletihan dan menggembirakan keberhasilan dari peserta. Mengelilingi mesbah tempat musyawarah dengan kedua jari kelingking saling mengkait dengan jari kelingking teman yang lain dan menggoyang kedua tangan dengan gembira. Dari ucapan pantun, menyebutkan Nama Pimpinan, Nama Lingkungan, dan Kampung sebagai Tanda Persahabatan, Persatuan dan Kebersaman. Dalam menyebut lingkungan, kampung disebutkan juga antara lain nama Lendola yang termasuk juga di dalam budaya kesatuan hampir semua tempat. Dari budaya yang ada membuktikan adanya Kesatuan, Keterpaduan, Kebersamaan; yang memberi suatu pandangan bahwa ada Persekutuan. Akhirnya nama Yayasan ini disebut Lendola, dengan mengharapkan : “Persekutuan dalam Pelayanan”.
Kini telah berdiri sebuah lembaga yang bernama Yayasan Lendola sejak 8 April 2000 beralamat di Jalan Rajawali, No.11 Kalabahi, Alor – NTT (85818) ; Telp. (0386) 2222 297; Fax : (0386) 2222 665; E-mail : lendola@telkom.net
Lembaga ini berdiri dengan Akte Notaris No. 36, tanggal 8 April 2000 oleh Silvester Joseph Mambaitfeto, SH. Akta ini lalu mendapat pengesahan Pengadilan Negeri Kalabahi No. W.17/DL.HT.01.10-15; Tanggal 15 April 2000 dan juga mendapat rekomendasi dari Kantor Sosial Politik No.482/Sospol.A/I/2000, Tanggal 11 Mei 2000. Selain itu juga mendapat rekomendasi Bupati Alor No. KSR.440/594/2000, Tangggal 15 Mei 2000 serta mendapat rekomendasi Dukungan Kinerja Yayasan dari Bupati Alor, No : Bapp.050/169/2003; tanggal 4 Pebruari 2003.

V isi: ===èfoto: Johan L. Maro
“Pembangunan akan berhasil dengan optimal dan merata menuju kesejahteraan lahir batin merupakan hak semua orang (masyarakat), dengan memiliki kesatuan, kesamaan, keseimbangan, keserasian dan keharmonisan di dalam berpikir, berbicara dan berbuat berdasarkan hati nurani dan aturan”.

Misi:
Mendampingi masyarakat dengan mengarahkan semua rencana, mekanisme, pelaksana, perbaikan, monitoring, dan evaluasi kegiatan dalam hal meningkatkan kesejahteraan.


Bidang Kegiatan:
Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Lingkungan, dan Infrastruktur.

Personalia Lembaga:
Pengurus Yayasan terdiri dari:
Ketua : Drs. Johan L. Maro
Wakil Ketua : Drs. Adjis Salim Adang Djaha, M.Si
Sekretaris : Dunand Johnson Jalla, S.TP
Bendahara : Jacob Mail
Pengawas : Petrus Johanes Buling, BA
Penasehat : Menase Waly
L.P. Maro

Badan Operasional:
Personil Tetap Lembaga:
No
Jabatan
Jml
Pendidikan
Masa Kerja di Lendola
S2
S1
D3
SMU
1 – 5 thn
5 – 8 thn
1.
Ketua
1
-
1
-
-
-
1
2.
Wakil Ketua
1
1
-
-
-
-
1
3.
Staf Administrasi
2
-
2
-
-
1
1
4.
Fasilitator Lapangan
6
-
2
1
3
2
4
Pengalaman Personil Lembaga :
No
Jenis Pengalaman
Ketua/Wkl
Staf Admin
Fas.Lapang
1.
Perencanaan Partisipasi Masyarakat
2
2
6
2.
Monitoring dan Evaluasi
2
2
6
3.
Analisa Jender
2
2
6
4.
Manejemen kegiatan peningkatan pendapatan
2
2
6
5.
Manajemen Kelompok Swadaya Masyarakat
2
2
6
6.
Manajemen pemasaran hasil
2
2
6
7.
Pelatih
2
2
6
8.
Pengelolaan Keuangan Lembaga
2
2
6
9.
Pengolahan data/computer
2
2
6
10
Perencanaan partisipasi lembaga
2
2
6
11
Memfasilitasi pemecahan konflik yang timbul di masyarakat
2
2
6
12
Memfasilitasi hubungan masyarakat dengan instansi pemerintah
2
2
6
13
Melaksanakan program penyadaran masyarakat dalam lingkup kelompok
2
2
6
14.
Pengelolaan Bencana
2
2
6

2. PENGELOLAAN PROGRAM 8 TAHUN TERAKHIR :
Thn
Jenis Program
Sumber Dana
2000 – 2008
1. Pengembangan Sumber Daya Manusia : Latihan Motivator Pembangunan Desa; Latihan Motivator Kesehatan; Latihan Participatory Rural Appraisal (PRA); Latihan Ziel Oriented Program Plannung (ZOPP); Latihan Jender; Latihan Manajemen KSM/Wirausaha Kecil; Latihan Wanatani/pertanian lahan kering; Latihan Pengembangan Swadaya Masyarakat; Latihan Pencegahan Konflik bagi aktifis LSM, Pengurus KSM dan Tokoh Masyarakat; Latihan Perencanaan Strategis; Latihan Pengembangan wilayah pesisir dan kelautan;Latihan penangan bencana bagi masyarakat, Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat korban gempa; Bantuan pemberian makanan tambahan bagi masyarakat korban gempa di Kecamatan Alor Timur Laut dan Alor Tengah Utara;Sosialisasi UU Pemilu, sosialisasi UU No.22 tahun 1999; Sosialisasi UU No.34 tahun 2004, Sosialisasi PP No.6 tahun 2004 kepada Kepala Desa/BPD dan Masyarakat di daerah binaan Lendola; Intervensi Kesehatan Masyarakat untuk penduduk yang terkena dampak gempa bumi di Alor, NTT; Penguatan Kapasitas Lembaga Yayasan Lendola dan jejaring kerjanya dalam Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat di Kabupaten Alor; Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat di Kabupaten Alor.
2. Penguatan Kelembagaan : Pembenahan administrasi dan keuangan kelompok/KSM; Rapat rutin bulanan/RAT; Membangun jejaring dengan lembaga-lembaga perkreditan,instansi pemerintah, swasta, dan kelompok-kelompok lainnya dalam memperoleh dukungan modal, bantuan teknis dan Pemasaran produk andalan kelompok; Forum refleksi wilayah; Penguatan Kapasitas Lembaga Yayasan Lendola dan jejaring kerjanya dalam Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat di Kabupaten Alor; Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat di Kabupaten Alor.
3. Penguatan Ekonomi : Bantuan modal untuk difersifikasi usaha dibidang Pertanian, Peternakan, dan Perikanan
4. Fisik Prasarana : Perbaikan pipa air minum, wc sehat, kelambu, MCK.
1. Japan International Cooperation Agency (JICA)/Yayasan Alfa Omega Kupang.
2. GTZ – Promis Alor.
3. Yayasan Mandiri Mataram – NTB.
4. GTZ – Siskes Alor.
5. WVI – ADP Alor.
6. Bappeda, BKKBN, GOP, Dekranasda Alor.
7. Center For East Indonesian Affairs (CEIA)/Pusat pengembangan Indonesia Timur di Jakarta.
8. Forum Kesiapan dan Penanaganan Bencana (FKPB) Kupang, sekarang PMPB Kupang
9. Yegum Emergency Unit (YEU) Yogyakarta.
10. Oxfam Great Britain (OGB Yogyakarta).
11. Pikul Kupang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar